Cream Pemutih Wajah Yashodara

Pengobatan Herpes Genitalis

Herpes GenitalisTujuan pengobatan herpes genitalis adalah:

- Mencegah infeksi dengan terapi profilaksis.

- Mempersingkat gejala klinis penyakit termasuk mencegah komplikasi infeksi primer misalnya meningitis aseptik dan retensi urin.

- Mencegah terjadinya masa laten dan rekuren sesudah infeksi primer.

- Mencegah rekurensi berikutnya dari penyakit yang dalam keadaan laten.

- Mengurangi penularan penyakit.

- Eradikasi infeksi laten.

Selama ini hanya beberapa tujuan tersebut diatas yang tercapai oleh terapi intervensi yang tersedia.

Wanita yang menderita herpes genitalis dianjurkan pemeriksaan sitologi serviks (tes Papaniculaou), sebab herpes genitalis berkaitan dengan peningkatan resiko terjadinya karsinoma serviks, dan dianjurkan agar memberitahukan kepada dokter tentang riwayat penyakit herpes genitalis yang dideritanya bila penderita hamil.

A. Terapi herpes genitalis episode klinis pertama

Terapi herpes genitalis episode klinis pertama meliputi:

- Analgesik sistemik yang adekuat.

- Antipiretik.

- Lesi kulit harus tetap bersih dan kering.

- Kateterisasi urin bila teijadi retensi.

- Asiklovir oral atau topikal.

Asiklovir

Asiklovir merupakan anti virus pertama yang dikembangkan  untuk terapi herpes genitalis. Penelitian in vitro menunjukkan bahwa asiklovir mempunyai efektifitas kuat terhadap HSV-1 dan HSV-2 pada binatang percobaan. Terapi sistemik dan terapi topikal memperbaiki infeksi mukokutaneus HSV dan dapat mencegah ganglionik Iaten bila diberikan dalam 96 jam setelah inoklulasi virus.

Meskipun belum ditemukan terapi radikal pada herpes genitalis, asiklovir menghambat replikasi virus dan mengurangi pelepasan virus. Replikasi virus dihambat dengan cara mencegah sintesis DNA. Efek ini terjadi setelah asiklovir difosporilasi oleh enzim virus thymidinkinase. Afinitas asiklovir pada thymidin kinase tersebut 200 kali lebih besar dari pada afinitas pada enzim mamalia.

Terapi sistemik yang dilakukan pada tahap dini akan menghambat pembentukan lesi baru, mengurangi keluhan dan gejala herpes genitalis berupa penurunan demam, dan gejala konstitusional lainnya dalam 48 jam terapi, dan mempercepat penyembuhan. Terapi dini direkomendasikan sejak ditemukan lesi herpes genitalis sebab gejala penyakit meningkat progresif dalam minggu pertama perlangsungan penyakit. Penggunaan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 7 — 10 hari dilaporkan dapat mencegah pembentukan lesi baru dibandingkan dengan plasebo pada penderita episode pertama herpes genitalis.

Daya guna asiklovir topikal pada uji klinis menurunkan pelepasan virus dan mengurangi durasi penyakit, pada penderita episode klinik pertama yang diterapi dalam 6 hari perlangsungan penyakit, tetapi efektifitas terapi topikal jauh lebih rendah dibandingkan dengan terapi oral atau intravenous. Asiklovir topikal bermanfaat pada episode klinis pertama, tetapi tidak bermanfaat pada tahap rekuren dan tidak mampu mencegah rekuren. Terapi dengan asiklovir topikal bentuk krim 5% atau ointment 3% diaplikasikan 5-6 kali sehari selama 5-7 hari atau sampai terjadi penyembuhan klinis.

Herpes genitalis episode klinis pertama kadang-kadang menimbulkan gejala klinis yang berat sehingga memerlukan rawat inap di rumah sakit. Pada penderita tersebut diterapi dengan asiklovir intravena. Anti virus sistemik dapat mengontrol keluhan dan gejala episode herpes. Nyeri dapat dikurangi dengan pemberian analgesik. Cuci lesi dengan cairan fisiologis memberikan rasa sejuk dan memudahkan miksi karena nyeri hebat dapat menimbulkan retensi urin.

Toksisitas aplikasi topikal pada lesi berupa iritasi lokal dan rasa terbakar yang bersifat sementara yang mungkin disebabkan oleh basis polyethylene glycol. Asiklovir Intravena biasanya ditoleransi baik, efek samping dilaporkan berupa plebitis lokal, rash, diaphoresis, nausea, hematuria dan hipertensi dan ensepalopati pada 1% penderita. Ensepalopati berhubungan dengan insufisiensi ginjal, dan konsentrasi asiklovir yang tinggi di dalam plasma, dan lebih sering terjadi bila diberikan bersamaan dengan methotreksat atau interferon. Pemberian secara oral menimbulkan efek samping berupa nausea, emesis atau sakit kepala.

Valasiklovir

Valasiklovir merupakan bentuk ester asiklovir, dikonversi dengan cepat dan hampir sempurna menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai 54%. Bioavibilitas ini lebih tinggi bila dibanding dengan asiklovir oral yang hanya 10-20%.

Efektifitas terhadap herpes genitalis telah diuji pada dua penelitian buta ganda yang menggunakan plasebo sebagai control. Pada penelitian buta ganda terhadap 987 penderita herpes genitalis rekuren yang memulai terapi sejak timbul lesi dan gejala pertama penyakit menunjukkan pengurangan durasi lesi secara bermakna dan keluhan yang menyertainya. Tidak ada perbedaan antar kelompok yang menerima Valasiklovir 500 mg dua kali sehari dan kelompok yang menerima 1000 mg dua kali sehari sehingga dosis yang direkomendasikan adalah 500 mg dua kali sehari selama 5 hari. Efek samping jarang terjadi dan tidak ada perbedaan antara plasebo dengan yang diterapi dengan Valasiklovir. Penelitian menggunakan 739 penderita herpes genitalis rekuren yang membandingkan antara valasiklovir 500 mg dua kali sehari dengan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 5 hari menunjukkan tidak ada perbedaan antara kedua rejimen tersebut.

Famsiklovir

Famsiklovir merupakan prodrug pencyclovir yang efektif menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2. Pencyclovir menggunakan enzim virus timidinkinase untuk fosforilasi menjadi monofosfat dan  sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir karena aktivitas preparat ini terhadap virus secara invitro sama dengan asiklovir yaitu menghambat sintesa DNA virus. Waktu paruh intraselular pencyclovir lebih lama dan asiklovir (> 10 jam) dengan bioavibilitas mencapai 77%. Keamanannya telah diteliti pada beberapa uji klinis dan menunjukkan toleransi yang baik. Efek samping yang ditemukan pada pemakaian Famsiklovir sama dengan efek samping pada pemberian plasebo. Efek samping yang paling sering ditemukan adalah mual, sakit kepala,dan diare. Crumpacker (1999) menganjurkan terapi dini dengan menggunakan Famsiklovir 125 mg dua kali sehari selama 5 hari, tetapi CDC (1998) merekomendasikan rejimen terapi episode pertama herpes genitalis seperti yang tampak pada tabel dibawah ini.

Rejimen yang direkomendasikan untuk terapi episodie klinis pertama

Asiklovir 400mg oral 3 kah sehari selama 7-10 hari

atau

Asiklovir 200 mg oral 5 kali sehari selama 7-10 hari

atau

Valasiklovir 1 g oral 2 kali sehari selama 7-10 hari

atau

Famsiklovir 250mg oral 3 kali sehari selama 7-10 hari

Catatan: terapi dilanjutkan bila setelah 10 hari penyembuhan belum sempurna