Stress dan Depresi Dapat Memicu Obesitas

Stigmatis publik pada figur bentuk tubuh manusia kurus selalu dikonotasikan representatif personal yang selalu dalam kondisi tertekan atau stress. Belum tentu. Justru stress atau depresi adalah pemicu obesitas dan kelebihan berat badan. Dr. Paresh Dandona dari Kaleida Health di Buffalo, New York, menemukan bahwa orang yang mengalami obesitas cenderung memiliki kadar stress lebih besar dibandingkan orang yang memiliki berat badan dalam kategori normal. Paresh juga menunjukkan bahwa makanan berlemak ternyata meningkatkan stress dan lebih cepat berpengaruh kepada orang yang bertubuh gemuk.

Pada penemuannya tersebut dr. Paresh menguji coba kepada sepuluh orang yang memiliki berat badan berkategori normal serta delapan orang yang memiliki berat badan kategori obesitas. Percobaan dilakukan dengan cara memberikan asupan gizi 1800 kalori yang terdiri dari hamburger, kentang goreng, minuman ringan bersoda, dan beberapa iris buah apel kepada seluruh partisipan uji coba. Kemudian proses uji coba dilanjutkan dengan memberikan soal tes pertanyaan kepada keseluruh 18 partisipan.

Hasilnya, dalam tempo kurun waktu dua jam seluruh partisipan mengalami peningkatan stress dalam menyelesaikan soal tes pertanyaan yang diberikan. Kemudian berselang satu jam kemudian, para sepuluh partisipan uji coba yang memiliki berat badan kategori normal sudah terlepas dari kondisi stress alias normal. Namun kedelapan partisipan uji coba lainnya yang memiliki berat badan kategori obesitas, kondisi depresi stress masih berlangsung bahkan kian meningkat.