Cabai Pedas untuk Anti Nyeri

Meskipun ada orang-orang yang menikmati rasa nyeri, misalnya kaum masokistik, namun sebagian besar orang tidak menyukai rasa nyeri. Nyeri kepala, nyeri sendi, nyeri pinggang hingga nyeri kanker yang bersifat kronik jarang mendapat sambutan baik dari siapapun. Rasa nyeri dapat sangat mempengaruhi kemampuan beraktivitas seseorang dan sangat mempengaruhi kualitas hidupnya. International Association for The Study of Pain (IASP) mendefinisikan rasa nyeri sebagai pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan dengan kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Dikarenakan rasa tidak nyaman yang diakibatkan oleh rasa nyeri, seringkali nyeri merupakan alasan utama bahkan tidak jarang merupakan satu-satunya alasan yang membawa seorang pasien datang berkonsultasi ke dokter.

Hingga saat ini banyak dokter dari berbagai belahan dunia dan dari berbagai bidang masih sering kebingungan dengan , terutama pada nyeri kronik. Dilema kadang muncul ketika harus memberi obat anti nyeri yang dapat menyebabkan kecanduan seperti golongan morfin. Melihat betapa pentingnya masalah nyeri ini bagi setiap orang, WHO (World Health Organization) dan berbagai ilmuwan di seluruh dunia sibuk terus mencari cara penanggulangan nyeri terbaik yang dapat diberikan pada pasien. Dr. Kenneth Hargreaves, D.D.S., Ph.D, kepala tim peneliti dari The University of Texas Health Science Center di San Antonio merupakan salah seorang yang memulai penelitian mengenai mekanisme nyeri dan bagaimana untuk mengatasinya secara lebih efektif.

Mereka memulai dengan mempelajari cabai. Mereka menemukan bahwa di dalam cabai terdapat zat capsaicin yang menyebabkan kita merasakan sensasi terbakar karena pedas bila memakan cabai. Lebih lanjut lagi,mereka menemukan bahwa dalam berbagai kondisi yang menyebabkan nyeri, tubuh memproduksi sejenis zat yang mirip dengan capsaicin dalam cabai. Zat ini berupa asam lemak yang disebut Oxidized Linoleic Acid Metabolites (OLAMs) yang mengaktivasi protein reseptor TRPV1 pada sel saraf nyeri. Para peneliti tersebut meneruskan penelitian mereka untuk dapat menemukan obat anti nyeri yang dapat bekerja langsung di reseptor nyeri TRPV1 atau yang berkaitan dengan OLAMs. Saat ini, penelitian lanjutan terhadap hal ini telah menghasilkan 2 kelas obat anti nyeri yang dapat menghambat pembentukan OLAMs dan yang berupa antibodi untuk menginaktivasi kerja OLAMs tersebut. Mereka percaya bahwa generasi baru anti nyeri ini dapat membantu mengatasi nyeri kronik seperti pada kanker, migrain, nyeri pada diabetes dan AIDS. Penelitian masih terus berlanjut untuk dapat meminimalisasi efek samping hipertermia (suhu tubuh meningkat) pada obat-obatan generasi baru ini sehingga dapat digunakan dengan optimal