Penatalaksanaan Penyakit Vaginosis Bakterial

Vaginosis BakterialPerjalanan penyakit vaginosis bakterial belum diteliti secara luas, tapi perbaikan spontan telah dilaporkan pada lebih 1/3 kasus. Perempuan dengan kultur positif G.vaginalis tidak seharusnya diterapi secara rutin, kecuali mereka menderita vaginosis bakterial simtomatik.

Semua perempuan dengan vaginosis bakterial simtomatik memerlukan pengobatan, termasuk wanita hamil. Keuntungan pengobatan vaginosis bakterial pada perempuan tidak hamil adalah untuk menghilangkan tanda dan gejala infeksi vagina, dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi infeksi. Pengobatan vaginosis bakterial pada wanita hamil adalah untuk menghilangkan tanda dan gejala infeksi vagina, menurunkan resiko komplikasi infeksi yang menyertai vaginosis bakterial selama kehamilan, dan menurunkan faktor risiko lainnya.

Metronidasol dapat menembus asi dan mempengaruhi rasanya. Oleh karena itu produsen obat merekomendasi untuk menghindari pemberian dosis tinggi bila penderita vaginosis bakterial sedang menyusui.

Vaginosis bakterial asimtomatik tidak memerlukan pengobatan. tapi dianjurkan pengobatan sebelum prosedur invasif seperti pemasangan AKDR, histeroskopi dan terminasi kehamilan, oleh karena kemungkinan adanya hubungan antara vaginosis bakterial dan penyakit radang panggul.

Peranan laki-laki pada vaginosis bakterial tidak jelas. Gardnerella vaginalis ditemukan dalam urethra 80 – 90% pada laki-laki yang melakukan kontak dengan perempuan penderita vaginosis bacterial. Percobaan terapi dapat diberikan pada vaginosis bakterial yang berulang, tetapi laki-laki seharusnya tidak diterapi secara rutin. Terapi pasangan laki-laki tidak bermanfaat dalam mencegah kekambuhan vaginosis bakterial.

a. Terapi Sistemik

1. Metronidasol 400 – 500 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Dilaporkan efektif dengan kesembuhan 84 – 96%. Metronidasol dapat menyebabkan mual dan urin menjadi gelap. Konsumsi alkohol seharusnya dihindari selama pengobatan dan 48 jam setelah terapi oleh karena dapat terjadi reaksi disulfiram.

2. Metronidasol 200 – 250 mg, 3 x sehari selama 7 hari untuk wanita hamil.

3. Metronidasol 2 gram dosis tunggal. Kurang efektif daripada terapi 7 hari untuk pengobatan vaginosis bakterial oleh karena angka rekurensi lebih tinggi.

4. Klindamisin 300 mg, 2 x sehari selama 7 hari. Sama efektifnya dengan metronidasol untuk pengobatan vaginosis bakterial .dengan angka kesembuhan 94%. Aman diberikan pada wanita hamil. Sejumlah kecil klindamisin dapat menembus air susu ibu (ASI), oleh karena itu sebaiknya menggunakan pengobatan intravagina untuk perempuan menyusui.

5. Augmentin (500 mg amoksisilin dan 125 mg asam klavulanat) 3 x sehari selama 7 hari. Cukup efektif sebagai cadangan terapi untuk wanita hamil dan intoleransi terhadap metronidasol.

6. Ampisillin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari. Angka kesembuhan hanya 30- 50%.

7.  Amoksisilin 500 mg, 3 x sehari selama 7 hari.

8. Tetrasiklin 250 mg, 4 x sehari selama 5 hari.

9. Doksisiklin 100 mg, 2 x sehari selama 7 hari.

10. Eritromisin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.

11. Cefaleksin 500 mg, 4 x sehari selama 7 hari.

b. Terapi Topikal

1. Metronidasol gel intravagina (0,75%) 5 gram, 1 x sehari selama 5 hari.

2. Klindamisin krim (2%) 5 gram, 1 x sehari salama 7 hari.

3. Tetrasiklin intravagina 100 mg, 1 x sehari. Sangat efektif mengobati vaginosis bakterial, tetapi menginduksi kandidiasis vagina dan lesi ulseratif vagina.

4. Triple sulfonamida krim atau tablet (Sulfacetamid 2,86%, Sulfabenzamide 3,7% dan Sulfathiazole 3,42%) 1 tablet atau 1 aplikator penuh krim ke dalam vagina 2 x sehari selama 10 hari. Tetapi akhir-akhir ini dilaporkan angka penyembuhan hanya 15-45%.